Selasa, 18 Maret 2014

Bukti Bahwa Terorisme Sebagian Besar Dilakukan Non-Muslim

Bukti Bahwa Terorisme Sebagian Besar Dilakukan Non-Muslim

Kita sering mendengar media memberitakan bahwa Muslim adalah teroris, Muslim adalah ekstremis, Muslim adalah pembunuh, dan sebagainya. Inilah yang sering diberitakan media, dan menurut saya dalam beberapa kasus, hal ini benar adanya. Memang ada sebagian kecil umat Islam yang bukan hanya baru-baru ini, tapi bahkan sebelum koran dan media diciptakan, yang melakukan semua hal itu. 
Tapi mari kita lihat sejarah dan lebih objektif. Bukankah orang-orang Yahudi dan Kristen juga melakukan semua itu? Bukankah ada orang-orang Yahudi, Kristen, Buddha, dan Ateis yang juga melakukan pembunuhan, mencuri, melakukan terorisme? Tentu saja mereka melakukannya. Seorang kriminal tetaplah kriminal, seorang teroris tetaplah teroris. Namun tidak pernah disebutkan dalam media bahwa orang-orang Kristen yang pedofil dijuluki "Kristen Pedofil", kita tidak pernah melihat orang Kristen yang membunuh disebut "Kristen Pembunuh" atau orang-orang Yahudi yang membunuh dijuluki "Yahudi Pembunuh." Timothy McVeigh yang melakukan teror dengan bom tidak disebut sebagai "Teroris Kristen, Charles Manson yang melakukan beberapa pembunuhan dengan sadis tidak disebut sebagai "Kristen Pembunuh Massal", Israel yang melakukan pembunuhan terhadap anak-anak di Palestina tidak disebut sebagai "Organisasi Yahudi Teroris." 
Faktanya mereka telah melakukan beberapa kejahatan terbesar dan terburuk dalam sejarah terorisme, tapi mereka tidak disebut sebagai Kristen teroris atau Yahudi teroris. Dengan demikian, timbullah pertanyaan, kenapa begitu? Kenapa jika seorang Muslim dituduh dan tuduhan ini belum tentu benar, dia belum tentu bersalah, tapi jika seorang Muslim baru saja diduga melakukan sesuatu, maka dia disebut sebagai Islam teroris, Muslim fanatik, ekstremis Muslim. Kenapa begitu? Karena media dikontrol oleh orang-orang yang ingin mengkambing-hitamkan umat Muslim dan Islam. Dan ini tidak adil! 
"Siapa yang memulai perang dunia pertama? Apakah Muslim? Siapa yang memulai perang dunia kedua? Apakah Muslim? Siapa yang mengirim bom nuklir Hiroshima dan Nagasaki? Apakah Muslim? Siapa yang membunuh lebih dari 100 juta orang Indian di Amerika Utara? Apakah Muslim? Siapa yang membunuh lebih dari 50 juta orang Indian di Amerika selatan? Apakah Muslim? Siapa yang menjadikan 180 juta orang Afrika sebagai budak dan 88% dari mereka meninggal dan dibuang di lautan atlantik? Bukan Muslim yang melakukannya. Siapa yang membunuh sekitar 20 jutaan Aborigin di Australia? Bukan Muslim yang melakukannya... " Dan hari ini Anda dapat melihat bahwa muslim selalu menjadi korban. Lihatlah Burma, Yaman, Suriah, Irak, Afghanistan, Palestina, dan negara-negara Islam lainnya. 
Memang benar sebagian Muslim bertanggung jawab atas sebagian kerusakan tentang Islam. Beberapa kesalahpahaman tentang Islam adalah hasil dari perilaku buruk sebagian kecil umat Muslim, tapi mari kita lebih adil dan objektif. Jika kita menganalisis sejarah dan bertanya, siapa yang terus menjalankan "perdangangan manusia internasional" yang menyebabkan 80.000.000 orang diperjual-belikan layaknya babi-babi dan anjing SELAMA LEBIH DARI 400 TAHUN? Yang melakukan ini bukan Muslim, mereka adalah orang-orang Portugal, Spanyol, Amerika, Inggris, Prancis, semuanya adalah negara Kristen dan mereka bekerjasama dengan gereja Katholik. Yang jadi pertanyaan, kenapa mereka tidak disebut orang-orang Kristen teroris?  Ketika Conquistador dan pasukannya pergi ke Amerika Selatan dan merusak negara-negara di Amerika Selatan, membunuh penduduknya, meracuni sumber daya alamnya, mereka malah diberkati oleh gereja dan sampai saat ini mereka masih diberkati oleh gereja, dan tak seorangpun menjuluki mereka "Kristen Teroris."
Ketika orang-orang dari Inggris datang ke benua Australia, sudah ada penduduk pribumi yang hidup di Australia, bukan orang-orang Inggris yang menemukan benua Australia karena sudah ada orang yang tinggal disana. Aku bisa saja datang ke rumah kalian, kemudian menghancurkan rumah kalian, mendirikan rumahku sendiri di atas tanah kalian, kemudian mengatakan bahwa rumah itu sekarang jadi milikku, dan mengusir kalian. 
Jadi sudah ada orang-orang yang hidup di Australia yang sekarang disebut suku Aborigin. Begitu juga orang-orang Indian di Amerika, mereka menyebutnya Suku Indian, mereka tidak disebut Orang-orang Amerika. Ketika Cristopher Columbus berlayar untuk mencari India, dia malah terdampar di sebuah tempat yang sekarang disebut Amerika, tapi berani-beraninya mereka, meskipun mereka tahu bahwa benua itu bukanlah India, masih saja mereka menyebut penduduknya "suku Indian." Dan hari ini, mereka menyebut penduduk aslinya dengan sebutan Indian, tapi mereka menyebut diri mereka sendiri orang Amerika. Dan sekarang orang-orang menjuluki penduduk asli Australia dengan sebutan suku Aborigin, tapi menyebut para pendatang dengan sebutan orang Australia. Dan Australia direbut dengan pertumpahan darah dan pembunuhan. Orang-orang Inggris yang datang ke Australia membunuh dan mengusir suku Aborigin dengan paksa. TANPA KERAGUAN, INI ADALAH TERORISME MURNI, tapi tak ada seorang pun yang menyebut mereka orang-orang Kristen teroris. Dan sekarang mereka memiliki peradaban yang maju di Australia, ada banyak kota besar seperti Sydney, Brisbane, Melbourne, sejarah kelam mengenai pembantaian suku Aborigin sudah terlupakan sekarang, tapi masih saja terorisme yang dilakukan pemerintah berlanjut. Baik terorisme oleh pemerintah atau individu adalah benar atau bermoral tidak dibenarkan! 
Dan di sisi lain, kita tak dapat menyebut  sebagian orang di Afghanistan, Chechnya, Kashmir,Palestina, Somalia, atau sebagian orang di Indonesia sebagai teroris, karena mereka hanya mencari kebebasan dari penindasan, ketika para non-Muslim mengakui sejarah mereka sendiri bahwa para non-Muslim ini melakukan hal yang sama, tapi mereka menjustifikasikannya. Ini tidak adil! Kejahatan tetaplah kejahatan, entah apakah dilakukan oleh orang yang tidak berpendidikan atau dilakukan oleh orang yang berpendidikan. Kejahatan yang dilakukan pemerintah sama buruknya dengan kejahatan yang dilakukan individu. Tapi kejahatan yang dilakukan pemerintah tidak diperiksa karena mereka yang punya kuasa, dan tak ada seorang pun yang bisa memeriksa mereka, tapi pemerintah punya kuasa untuk memburu individu tertentu dan memeriksa mereka. 
Jadi masalah Islam atau Muslim dikatakan orang-orang fanatik adalah tidak adil, karena Islam hanyalah sebuah jalan hidup.

Apakah Umat Islam Pelaku Terorisme? 87,5 Juta Orang Tewa


 

Abad ke-20 sampai ke-21 penuh dengan pertumpahan darah. Menurut Professor Carter, abad ke-20 adalah abad yang paling berdarah. Mereka mengatakan bahwa agamalah yang menyebabkan peperangan. Tapi kenyataannya lebih banyak orang yang terbunuh karena pemahaman ideologi sekuler, daripada yang terbunuh karena agama. Terorisme yang sebenarnya adalah terorisme yang dilakukan atas nama ideologi/negara, karena lebih banyak warga sipil yang terbunuh karenanya.
Sebagai contoh, Zbigniew Brzezinski dalam artikel publiknya, Out of Control: Global Turmoil on the Eve of the 21st Century yang beredar pada tahun 1993, dia berkata bahwa orang-orang sengaja dibunuh karena alasan politik. Dalam tulisannya, tercatat bahwa korban yang tewas di abad ke-21 mencapai 87.500.000 jiwa.
Tidak seperti korban 9/11 yang mereka katakan berjumlah 3.000 jiwa, dan sebenarnya ini juga tidak benar. Tidak seperti korban di Inggris pada tahun 1977 yang memakan korban 60 jiwa.
Tapi lihatlah terorisme yang sebenarnya. Terorisme yang dilatarbelakangi politik dan dilakukan suatu negara menyebabkan 87.500.000 orang terbunuh.  Dan 87.500.000 orang yang terbunuh ini dilakukan oleh negara-negara dan institusi-institusi sekuler. Jika kau melihat jumlah korban yang berjatuhan, maka kau akan terkejut dan berkata “Bagaimana mungkin seseorang tidak menyadarinya? Semua perang yang menyebabkan terorisme ini layaknya agenda terselubung.
Dan kita telah menyaksikan hal ini di Iraq, dimana 1,2 juta jiwa terbunuh, di Afghanistan dimana ribuan orang terbunuh. Semua ini dilakukan dengan bom uranium dimana mereka mengebom teluk-teluk. Dan bom ini layaknya sebuah nuklir, karena dia meninggalkan awan radiasi di atmosfer. Anak-anak yang terlahir menjadi cacat, wajah-wajah mereka rusak, mereka tak punya tangan.
Jadi dari sini saja kita sudah tahu, bahwa terorisme yang sebenarnya adalah terorisme atas nama negara. Dan kita tidak menunjuk negara mana yang melakukannya.
Poin pentingnya adalah, kita sebagai umat muslim harus berlaku adil dan jujur, meskipun kejujuran itu dapat merugikan diri kita sendiri.
Dan kita harus seperti ini. Jadi ketika suatu negara berbuat salah, kita harus bersuara. Ini adalah bagian dari menegakkan yang amar ma’ruf dan mencegah yang munkar. Jika kita tidak melakukan ini, maka ketakwaan kita belum sempurna.
Nabi Muhammad S.A.W. bersabda bahwa ada sebuah kota yang jahat, dan Allah menyuruh para malaikat untuk menghancurkan kota itu. Disana ada seorang saleh yang selalu menyembah Allah, dan para malaikat berkata “Ya Allah, ada seorang saleh disini.” Dan Allah berfirman “Hancurkan dia terlebih dahulu bersama dengan kotanya.”
Karena kesalehan juga berarti menegakkan yang baik dan mencegah yang buruk, tapi dia tidak melakukan apa-apa, hatinya tidak berkeinginan untuk mengubah keadaan kaumnya.
Jadi sekarang kita harus membahas tentang apa itu terorisme sebenarnya, karena mereka pikir itu adalah jihad. Terorisme bukanlah jihad, dan jihad bukanlah terorisme.
Dan sebelum kita membahasnya, kita harus mengerti artinya “bertempur.” Ada begitu banyak studi antropologi yang meliputi studi kebudayaan, studi negara, dalam perang dan pertempuran. Semuanya menyimpulkan bahwa bertempur adalah bagian dari kehidupan manusia.
Perang sudah ada sebelum masuknya agama, perang ada ketika sudah masuk agama, dan perang tetap ada setelah ditemukannya negara sekuler.
Tapi alasan untuk bertempur berbeda-beda. Sebagian orang bertempur untuk melindungi diri, sebagian lainnya untuk menyerang musuh, sebagian lainnya untuk mendapatkan tanah, mendapatkan sumber daya, dan geo-politik.
Tapi kesimpulannya, perang dan pertempuran adalah fenomena manusia dan tidak ekslusif dilakukan agama atau bangsa tertentu.
Dan seperti yang kita tahu, ada banyak perang modern, terlebih lagi di masa sekarang, contohnya adalah Amerika dan Inggris bertempur untuk merampas minyak dan menaruh kuasanya di Irak, Afghanistan. Bahkan yang terjadi di Libya jelas-jelas merupakan hasil campur tangan Eropa, yaitu Prancis dan Inggris, karena kita lihat secara strategis Libya sangat penting karena merupakan akses bagi sumber daya di Afrika, dan juga karena minyaknya.
Jadi seharusnya perwakilan dari Amerika Serikat tidak membohongi publik, karena ketika PBB datang untuk mengumumkan ini, mereka berkata “kami melakukannya untuk melindungi nyawa orang-orang yang tak bersalah.” Itu adalah omong kosong.  Ini jelas-jelas karena kepentingan Amerika.
Dan bahkan mereka sangat tegas akannya. Kita mendengar Obama mengatakan “kepentingan Amerika.” Jadi jangan tertipu bahwa mereka melakukannya untuk alasan kemanusiaan.
Jadi kita tahu bahwa bertempur adalah bagian dari kehidupan manusia. Lalu, bagaimana tentang pertempuran menurut Islam? Kita tahu bahwa Islam bukanlah sekedar agama, Islam mencakup seluruh aspek kehidupan, merupakan jalan hidup yang menyeluruh.
Islam menyadari bahwa manusia pada dasarnya bertarung dan terlibat dalam peperangan. Meskipun begitu, Islam menentukan aturan-aturan dalam perang.
Inilah beberapa aturan dalam peperangan. Aturan yang diajarkan Muhammad S.A.W. mengungguli aturan perang lainnya, misalnya konvensi Jenewa.
Beberapa aturan ini diantaranya adalah:
  • tidak boleh membunuh orang-orang yang tak bersalah,
  • tidak boleh membunuh wanita dan anak-anak,
  • tidak boleh membakar tanaman pertanian dan pepohonan,
  • hanya boleh memerangi orang-orang yang memerangimu,
  • tidak boleh melakukan pengrusakan.
Inilah mengapa Abu Bakar R.A. yang merupakan sahabat Nabi Muhammad, ketika pasukannya siap bertempur, dia berkata “Dengarkan aku wahai pasukan. Aku memberimu 10 aturan sebagai petunjukmu di medan perang.
  1. Jangan melakukan pengkhianatan
  2. atau menyimpang dari jalan yang benar.
  3. Tidak boleh memutilasi mayat atau membunuh anak-anak,
  4. Tidak boleh membunuh wanita,
  5. Tidak boleh membunuh orangtua.
  6. Tidak boleh menyakiti pepohonan atau membakarnya dengan api,
  7. Tidak boleh menyakiti pepohonan yang sedang berbuah.
  8. Jangan membunuh hewan ternak milik musuh untuk dijadikan perbekalan kalian.
  9. Tidak boleh membunuh orang-orang yang menghabiskan hidup mereka dalam beribadah menurut agama mereka masing-masing,
  10. Tidak boleh membunuh orang-orang yang berkorban untuk alasan kemanusiaan."
Dan inilah aturan Islam dan semuanya sangat jelas. Tidak ada yang namanya “kerusakan tambahan (collateral damage).” Collateral damage berarti terbunuhnya orang-orang yang tak bersalah.  Karena dalam Islam, nyawa setiap warga sipil begitu berharga.
Jadi aku akan menjelaskan beberapa hak tentang peperangan dan prajurit.
Pertama-tama, kita mempunyai prinsip yang umum di dalam Al-Qur’an Al-Maaidah:32 dimana Allah S.W.T. berfirman:

"barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya."

Jadi Allah Azza wa Jalla berfirman bahwa untuk membunuh seseorang harus melalui proses hukum atau alasan yang benar. Inilah mengapa Allah berfirman di dalam surat Al-An'aam:151:

"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar."

Dan inilah mengapa Nabi Muhammad S.A.W. bersabda:

“Dosa terbesar adalah menyekutukan Allah (syirik) dan membunuh manusia.”

Dan Allah S.W.T. berfirman dalam surat Al-Maaidah ayat 32:

"Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya."
Selain ini, kita juga mempunyai aturan untuk para prajurit. Beberapa aturan tersebut diantaranya:
Tidak diperbolehkan menyiksa, dan terlebih lagi menyiksa dengan api. Dalam hadist Nabi Muhammad S.A.W. yang tercatat di dalam Abu Daud, Nabi Muhammad S.A.W. bersabda: “Hukuman dengan api tidak menguntungkan bagi siapapun kecuali Penguasa dari api (Allah Azza wa Jalla)."
Kita juga harus melindungi yang terluka. Nabi Muhammad S.A.W. bersabda “Jangan menyerang orang yang terluka.”
Kita juga tidak diperbolehkan untuk membunuh tawanan perang. Nabi Muhammad S.A.W. bersabda “Tidak boleh ada tawanan perang yang dijagal dengan pedang.” Nabi Muhammad S.A.W. juga bersabda "Tawanan yang terikat tidak boleh dibunuh."
Kita juga punya aturan tentang merampas dan menghancurkan negara musuh.
Telah diriwayatkan dalam hadist al-Bukhari dan Abu Daud bahwa Nabi Muhammad S.A.W. bersabda
“Rasulullah telah melarang orang-orang yang beriman merampas dan menjarah.” Di hadis lainnya dalam Abu Daud, Nabi Muhammad S.A.W. bersabda “merampas tidak lebih sah daripada seekor babi.”
Jelas sekali, kita juga harus menjaga kesucian orang yang terbunuh. Dalam hadist al-Bukhari dan Abu Daud, Nabi Muhammad S.A.W. bersabda “Rasulullah S.A.W. telah melarang kami untuk memutilasi mayat-mayat musuh.”
Kita juga harus mengembalikan mayat-mayat kepada musuh. Suatu ketika orang-orang kafir menghadiahi Nabi Muhammad dengan uang sebanyak 10.000 dinar dan meminta agar mayat dari teman-teman mereka dikembalikan. Dan Nabi Muhammad S.A.W. menjawab “Aku tidak menjual mayat-mayat. Kalian boleh mengambil kembali mayat dari teman-teman kalian yang telah gugur.”
Kita juga tidak boleh melanggar perjanjian ketika terlibat dalam peperangan. Islam dengan sangat tegas melarang hal ini.
Sekarang, lihatlah riwayat-riwayat dan nilai moral yang menakjubkan ini, dan bandingkan dengan apa yang terjadi di Barat. Ketika negara-negara Barat menginvasi suatu negara, kita melihat banyak orang-orang yang tak berdosa juga menjadi korban. Sebanyak 1,2 juta jiwa meninggal dunia di Irak, ribuan di Afghanistan.
Bahkan BBC (British Broadcasting Corporation) melaporkan... kalian tahu tentang bom pintar? Mereka menciptakan bom pintar yang dipandu laser dan hanya membunuh musuh. Tapi mereka mengatakan bahwa bom ini tidak terlalu pintar karena hanya 14% yang sukses mengenai sasaran.
Sekarang, aku ingin menggunakan Zionis sebagai contoh untuk melihat bagaimana tidak adilnya aturan perang mereka. Contohnya IDF, mereka membunuh ratusan tawanan perang Mesir pada tahun 1956 dan 1967. Pada tahun 1967, pasukan Zionis mengusir 100.000-260.000 orang Palestina dari Tepi Barat dan mengusir hampir 100.000 orang-orang Siria dari Golan Heights. Menurut Amnesty International, Israel telah menghancurkan lebih dari 10.000 rumah di antara 1967-2003.
Israel bertanggung jawab terhadap pembantaian Sabra dan Shatila yang merenggut sekitar 3.000 nyawa warga sipil. Kita tidak melihat peristiwa ini diperingati di barat setiap tahunnya, bukankah begitu? Kita ingat 3.000 jiwa pada peristiwa 9/11, tapi bagaimana dengan pembantaian umat manusia di Sabra dan Shatila. Apakah nyawa seorang muslim lebih rendah harganya daripada nyawa non-muslim? Apakah itu yang mereka maksudkan? Islam tidak mengajarkan hal ini, Islam mengajarkan bahwa setiap manusia setara.

Israel terang-terangan dalam pembantaian ini, dan setelah investigasi oleh pihak Israel sendiri, komisi menemukan bahwa Perdana Menteri Pertahanan Israel, Ariel Sharon bertanggung jawab secara pribadi.
Pada perang Lebanon baru-baru ini, IDF menembakkan 1 juta bom pada populasi sebanyak 650.000 orang di Lebanon Selatan. Ini sama saja seperti 2 bom untuk satu orang. Dan salah satu tentara Israel berkata “Apa yang kami lakukan bersifat gila dan biadab.”
Human Rights Watch menyimpulkan, Israel telah melanggar salah satu hukum perang yang paling mendasar, yaitu menyerang hanya target militer.
Dan Professor John Mearshimer yang ahli dalam bidang ilmu politik dan Professor Stephen Walt yang ahli dalam bidang hubungan internasional, mereka berkata “Dinilai secara objektif, dari kelakuan masa lalu dan masa sekarang, Israel tidak punya moral terhadap warga Palestina.”
Kita tahu bahwa Israel mendapatkan 65 kali resolusi PBB, tema dari resolusi-resolusi ini termasuk:
  • serangan melanggar hukum terhadap negara tetangga,
  • melanggar HAM orang-orang Palestina termasuk mendeportasi, menghancurkan rumah-rumah,
  • merebut tanah Palestina,
  • mendirikan pemukiman ilegal,
  • tidak mau menaati pakta PBB dan Konvensi Jenewa 1949 yang berhubungan dengan perlindungan terhadap warga sipil pada saat perang.
Dan inilah kelakuan Zionis. Ketika kita membicarakan tentang Amerika Serikat, ketika mereka pergi ke Amerika Selatan saja, sangat kelihatan kepentingan politik mereka terhadap Amerika Latin, Eropa, dan Afrika.

Kedatangan Imam Mahdi di Akhir Zaman

Kedatangan Imam Mahdi di Akhir Zaman

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.
Hari kiamat dan hancurnya dunia ini adalah suatu hal yang pasti. Keyakinan ini sudah semestinya menjadi aqidah seorang muslim.
Allah Ta’ala berfirman,
يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ
“Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabbmu.” (QS. Ar Ra’du: 2)

Namun menyongsong hari kiamat tersebut muncul peristiwa-peristiwa besar yang disebut dengan asyrothus saa’ah (tanda-tanda hari kiamat). Para ulama pun menjelaskan bahwa tanda-tanda kiamat itu ada dua macam yaitu tanda shughro (kecil) dan tanda kubro (besar). Dan sebenarnya dapat pula tanda tersebut dirinci menjadi empat macam.
Pertama, tanda shughro yang pernah terjadi dan telah berakhir. Contohnya adalah diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terbelahnya bulan.
Kedua, tanda shughro yang terus menerus terjadi dan berulang. Contohnya adalah menyerahkan amanah kepada orang yang bukan ahlinya, muncul para pendusta yang mengaku sebagai nabi, muncul wanita-wanita yang berpakaian namun hakekatnya telanjang dan merebaknya perzinaan.
Ketiga, tanda shughro yang belum terjadi. Contohnya adalah tanah Arab akan menjadi subur dan penuh pengairan.
Keempat, tanda kubro, artinya bila tanda-tanda ini muncul, maka kiamat sebentar lagi akan tiba. Di antara tanda tersebut adalah munculnya Imam Mahdi, Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa ke dunia, dan keluarnya Ya’juj-Ma’juj.
Mungkin ada yang menanyakan, “Mengapa kita harus mengetahui dan mengenal tanda-tanda hari kiamat?”
Ingat, mengenalnya bukanlah hanya untuk menambah wacana. Namun ada beberapa alasan kita mesti mengenalnya.
Pertama: Mengenal tanda-tanda hari kiamat merupakan bagian dari beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena bagaimana mungkin seorang hamba dikatakan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, namun tidak membenarkan berita keduanya?! Padahal Allah Ta’ala berfirman,
ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ,  الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib.” (QS. Al Baqarah: 2-3).
Kedua: Mengenal tanda-tanda tersebut juga merupakan bagian dari rukun iman –yaitu beriman kepda hari akhir-. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan mengenai definisi iman,
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Iman adalah engkau beriman pada Allah, pada malaikat-Nya, pada kitab-kitab-Nya, pada para Rasul-Nya, pada hari akhir dan engkau beriman pada takdir yang baik dan buruk.”
Ketiga: Semakin mengenal tanda-tanda tersebut akan semakin memperkokoh keimanan seseorang pada hari kiamat.
Selanjutnya kita akan melihat beberapa penjelasan mengenai tanda-tanda kiamat kubro. Karena tanda-tanda ini yang biasa diperselisihkan oleh Ahlus Sunnah dan aliran yang menyimpang. Kita akan mengkaji empat peristiwa besar yaitu kedatangan Imam Mahdi, turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam, keluarnya Dajjal, dan keluarnya Ya’juj-Ma’juj. Semoga Allah mudahkan.

Tanda Kubro Pertama:

Kedatangan Imam Mahdi yang Dinanti-nanti

 

Makna Mahdi
Mahdi berarti orang yang diberi petunjuk dan dalam bahasa Arab mahdi masuk dalam kategori isim maf’ul. Makna ini sebagaimana terdapat dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah,
وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ
“Dan sunnah para Khulafa’ rosyidin (yang mendapat petunjuk dalam beramal), mahdiyin (yang mendapat petunjuk ilmu).”
Ibnul Atsir mengatakan, “Yang dimaksud al mahdi dalam hadits ini adalah orang yang diberi petunjuk pada kebenaran. Mahdi kadang menjadi nama orang bahkan sudah seringkali digunakan seperti itu. Begitu pula Al Mahdi juga bermakna orang yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan muncul di akhir zaman. Juga mahdi bisa dimaksudkan dengan Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum. Bahkan mahdi juga bisa bermakna lebih luas, yaitu siapa saja yang mengikuti jalan hidup mereka dalam beragama.”
Namun yang dimaksudkan dengan Mahdi dalam pembahasan kali ini adalah Imam Mahdi yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan datang di akhir zaman. Dia akan menguatkan agama ini dan menyebarkan keadilan. Kaum muslimin dan kerajaan Islam akan berada di bawah kekuasaannya. Imam Mahdi berasal dari keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia hidup di zaman Nabi Isa ‘alaihis salam turun dan di masa keluarnya Dajjal.
Beberapa Pendapat Mengenai Siapakah Imam Mahdi
Ibnul Qayim rahimahullah mengatakan, “Hadits-hadits yang membicarakan tentang Imam Mahdi ada empat macam. Ada yang shahih, ada yang hasan, ada yang ghorib dan ada pula yang maudhu’ (palsu).“
Dari sini, manusia berselisih pendapat siapakah Imam Mahdi yang sebenarnya.
Pendapat pertama, mengatakan bahwa Imam Mahdi adalah Al Masih ‘Isa bin Maryam. Itulah Imam Mahdi yang sebenarnya menurut mereka. Mereka beralasan dengan hadits dari Muhammad bin Kholid Al Jundi, namun hadits tersebut adalah hadits yang tidak shahih. Seandainya pun shahih, itu bukanlah dalil untuk mengatakan bahwa Imam Mahdi adalah Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Karena Nabi ‘Isa tentu saja lebih pantas disebut Mahdi (karena asal makna mahdi adalah yang diberi petunjuk, -pen) daripada Imam Mahdi itu sendiri. Nabi ‘Isa itu diutus sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau akan turun lagi menjelang hari kiamat. Sebagaimana pula telah diterangkan dalam hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihis salam akan turun di menara putih, sebelah timur Damaskus. ‘Isa pun akan turun dan berhukum dengan Kitabullah (Al Qur’an), beliau akan membunuh orang Yahudi dan Nashrani, menghapuskan jizyah dan akan membinasakan golongan-golongan yang menyimpang.
Pendapat kedua, Imam Mahdi adalah pemimpin di masa Bani Al ‘Abbas dan masa tersebut sudah berakhir. Namun hadits-hadits yang membicarakan hal tersebut seandainya shahih, itu bukanlah dalil bahwa Imam Mahdi yang memimpin Bani Al ‘Abbas adalah Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman. Ibnul Qayyim mengatakan, “Dia memang mahdi (karena asal makna mahdi adalah yang diberi petunjuk, namun dia bukan Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman, pen). Sebagaimana ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz adalah mahdi (yang diberi petunjuk) dan sebenarnya beliau lebih pantas disebut mahdi daripada penguasa Bani Al ‘Abbas.”
Pendapat ketiga, Imam Mahdi adalah seseorang yang berasal dari keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, keturunan Al Hasan bin ‘Ali. Dia akan datang di akhir zaman di saat zaman penuh dengan kezholiman. Lalu Imam Mahdi datang dengan membawa keadilan. Inilah Imam Mahdi yang dimaksudkan dalam banyak hadits.
Adapun hadits-hadits yang membicarakan mengenai Imam Mahdi, sebagian sanadnya ada yang dho’if dan ghorib. Namun hadits-hadits tersebut saling menguatkan satu dan lainnya. Inilah yang menjadi pendapat Ahlus Sunnah dan inilah pendapat yang  benar.
Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan, “Adapun Rofidhoh (Syi’ah Al Imamiyah), mereka memiliki pendapat yang keempat. Mereka berpendapat bahwa Imam Mahdi adalah Muhammad bin Al Hasan Al ‘Askariy Al Muntazhor (yang dinanti-nanti). Dia merupakan keturunan Al Husain bin ‘Ali, bukan dari keturunan Al Hasan bin ‘Ali (sebagaimana yang diyakini Ahlus Sunnah, -pen). Dia akan hadir di berbagai negeri tetapi tidak kasatmata, dia akan mewariskan tongkat dan menutup padang sahara. Dia akan masuk Sirdab Samira’ semasa kanak-kanak sejak lebih dari 500 tahun. Kemudian tidak ada satu pun melihatnya setelah itu. Dan tidak pernah diketahui berita, begitu pula jejaknya. Namun, setiap hari orang-orang Rafidhah selalu menanti dengan tunggangan kuda di pintu Sirdab. Mereka sering berteriak agar Imam Mahdi tersebut dapat keluar menemui mereka. Mereka memanggil, “Wahai tuan kami, keluarlah.” Namun mereka pun pulang dengan tangan hampa, tidak mendapatkan apa-apa. Usaha mereka yang begitu giat, hanya sia-sia belaka.”
Nama Imam Mahdi
Nama Imam Mahdi adalah Muhammad, sedangkan nama ayahnya adalah ‘Abdullah. Jadi, nama Imam Mahdi dan nama ayahnya sama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمْلِكَ الْعَرَبَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِى يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِى
“Dunia ini tidak akan sirna hingga seorang pria dari keluargaku yang namanya sama dengan namaku (yaitu Muhammad) menguasai Arab.” 
Maksud bahwa orang tersebut akan menguasai Arab adalah ia akan menguasai non Arab juga. Ath Thibi mengatakan, “Dalam hadits di atas tidak disebutkan non Arab, namun mereka tetap termasuk dalam hadits tersebut. Jika dikatakan menguasai Arab, maka itu berarti juga menguasai non Arab karena Arab dan non Arab adalah satu kata dan satu tangan.”
Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan mengenai Imam Mahdi,
مِنْ أَهْلِ بَيْتِى يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِى وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمَ أَبِى
“Dia berasal dari keluargaku. Namanya (yaitu Muhammad) sama dengan namaku. Nama ayahnya (yaitu ‘Abdullah) pun sama dengan nama ayahku.”
Imam Mahdi berasal dari keturunan Fathimah, putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمَهْدِىُّ مِنْ عِتْرَتِى مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ
“Imam Mahdi adalah dari keluargaku dari keturunan Fathimah.”
Hadits di atas menunjukkan bahwa Imam Mahdi berasal dari keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dari jalur Fathimah. Inilah pendapat yang tepat.
Oleh karena itu, nama Imam Mahdi –sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir- adalah:
مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِ اللهِ العَلَوِي الفَاطِمِي الحَسَنِي
Muhammad bin Abdullah Al ‘Alawi (keturunan Ali bin Abu Tholib) Al Fathimiy (keturunan Fatimah binti Muhammad) Al Hasaniy (keturunan Hasan bin ‘Ali).
Waktu Munculnya Imam Mahdi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَذْهَبُ أَوْ لاَ تَنْقَضِى الدُّنْيَا حَتَّى يَمْلِكَ الْعَرَبَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِى يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِى
“Dunia tidak akan lenyap atau tidak akan sirna hingga seseorang dari keluargaku menguasai bangsa Arab. Namanya sama dengan namaku.”
Ibnu Katsir mengatakan, “Imam Mahdi akan muncul di akhir zaman. Saya mengira bahwa munculnya Imam Mahdi adalah sebelum turunnya Nabi ‘Isa, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits yang menyebutkan hal ini.”
Sifat Fisik Imam Mahdi
Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمَهْدِىُّ مِنِّى أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى الأَنْفِ
“Imam Mahdi adalah keturunanku. Dahinya lebar (atau rambut kepala bagian depannya tersingkap) dan hidungnya mancung.” Al Qori’ dalam mengatakan, “Hidung beliau tidaklah pesek karena bentuk hidung semacam ini kurang disukai.”
 
Di Masa Imam Mahdi akan Tersebar Kemakmuran dan Keadilan
Di masa Imam Mahdi akan penuh dengan keadilan dan kemakmuran, berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Di zaman beliau, harta begitu melimpah, banyak ditumbuhi tanaman dan semakin banyak hewan ternak. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمَهْدِىُّ مِنِّى أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى الأَنْفِ يَمْلأُ الأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِينَ
“Imam Mahdi berasal dari keturunanku. Beliau memiliki dahi yang lebar dan hidung yang mancung. Di masanya, akan tersebar keadilan di muka bumi, sebagaimana sebelumnya penuh dengan kezholiman dan kelaliman. Beliau akan berkuasa selama 7 tahun.”
Juga dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَكُونُ فِى أُمَّتِى الْمَهْدِىُّ إِنْ قُصِرَ فَسَبْعٌ وَإِلاَّ فَتِسْعٌ فَتَنْعَمُ فِيهِ أُمَّتِى نَعْمَةً لَمْ يَنْعَمُوا مِثْلَهَا قَطُّ تُؤْتَى أُكُلَهَا وَلاَ تَدَّخِرُ مِنْهُمْ شَيْئًا وَالْمَالُ يَوْمَئِذٍ كُدُوسٌ فَيَقُومُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ يَا مَهْدِىُّ أَعْطِنِى فَيَقُولُ خُذْ
“Akan ada pada umatku Al Mahdi. Jika masanya pendek (dia memerintah) selama 7 tahun, jika tidak maka 9 tahun. Pada masa itu umatku akan mendapatkan kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Mereka akan memperoleh banyak makanan dan mereka tidak akan menyimpannya. Pada saat itu, harta begitu melimpah. Ada seseorang yang mengatakan, ‘Wahai Imam Mahdi, berilah aku sesuatu.’ Lalu beliau mengatakan, ‘Ambillah’.”
Dalam riwayat Tirmidzi dikatakan,
« فَيَجِىءُ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَيَقُولُ يَا مَهْدِىُّ أَعْطِنِى أَعْطِنِى ». قَالَ « فَيَحْثِى لَهُ فِى ثَوْبِهِ مَا اسْتَطَاعَ أَنْ يَحْمِلَهُ »
“Datanglah seseorang kepada Imam Mahdi, lalu dia berkata, ‘Wahai Imam Mahdi, berikanlah aku sesuatu, berikanlah aku sesuatu.’ Lalu Nabi berkata, “Imam Mahdi pun menuangkan sesuatu di pakaiannya yang ia tidak sanggup memikulnya”.
Dalam riwayat Al Hakim juga dikatakan,
يَخْرُجُ فِي آخِرِ أُمَّتِي المَهْدِيُّ يَسْقِيْهِ اللهُ الغَيْثَ ، وَتُخْرِجُ الأَرْضُ نَبَاتَهَا ، وَيُعْطِي المَالَ صِحَاحًا ، وَتَكْثُرُ المَاشِيَةُ وَتَعْظُمُ الأُمَّةُ ، يَعِيْشُ سَبْعًا أَوْ ثَمَانِيًا » يَعْنِي حِجَجًا
“Imam Mahdi akan keluar di akhir umatku. (Pada masanya), Allah akan menurunkan hujan, akan menumbuhkan tanaman di muka bumi, harta akan dibagi secara merata. Binatang ternak akan semakin banyak, begitu juga umat akan bertambah besar. Imam Mahdi hidup selama 7 atau 8 tahun.”
Masa Kekuasaan Imam Mahdi
Disebutkan dalam riwayat At Tirmidzi,
إِنَّ فِى أُمَّتِى الْمَهْدِىَّ يَخْرُجُ يَعِيشُ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا
“Imam Mahdi akan muncul di tengah-tengah umatku dan ia akan berkuasa selama lima, tujuh atau sembilan tahun.” Ada keraguan dari Zaid, salah seorang periwayat hadits ini.
Al Mubarakfuri menjelaskan, “Dalam riwayat dari Abu Sa’id Al Khudri dalam sunan Abu Daud disebutkan bahwa Imam Mahdi berkuasa selama tujuh tahun dan tidak ada keraguan sama sekali dari perowi. Begitu pula dalam hadits Ummu Salamah disebutkan pula bahwa Imam Mahdi akan berkuasa selama tujuh tahun. Di sini juga tanpa disebutkan adanya keraguan dari perowi. Dari sini, hadits yang menggunakan lafazh tegas lebih didahulukan daripada lafazh yang masih ada syak (keraguan).” Dari penjelasan beliau menunjukkan bahwa yang lebih tepat jika kita katakan, Imam Mahdi berkuasa selama tujuh tahun. Wallahu a’lam.
Di mana Imam Mahdi Muncul?
Tidak ada sama sekali riwayat yang shahih yang menunjukkan di manakah tempat munculnya Imam Mahdi atau waktu kapan keluarnya Imam Mahdi. Akan tetapi, para ulama menjelaskan hal itu dari kesimpulan beberapa riwayat, namun tidak ditegaskan pasti di mana dan kapan munculnya.
Imam Mahdi akan muncul dari arah timur (yaitu timur Jazirah Arab). Sebagaimana hal ini diisyaratkan dalam riwayat Ibnu Majah.
Ibnu Katsir mengatakan, ”Imam Mahdi akan muncul dari arah timur dan bukan dari Sirdab Samira’ sebagaimana yang disangkakan oleh Syi’ah (Rafidhah). Mereka menunggu sampai sekarang, padahal persangkaan orang Rafidhah itu hanyalah igauan semata, pemikiran yang sangat lemah dan pemahaman gila yang dimasukkan oleh syaithan. Sanggkaan mereka tidak ada landasan sama sekali dari Al Qur’an maupun As Sunnah serta apa yang mereka sangkakan sangat tidak logis dan tidak sesuai dengan akal yang sehat .”
Nabi ’Isa akan Shalat di Belakang Imam Mahdi
Ketika Nabi ’Isa ’alaihis salam turun kembali di akhir zaman, beliau akan shalat di belakang Imam Mahdi yaitu menjadi makmum di belakangnya.
Dari Jabir bin ’Abdillah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ – قَالَ – فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ -صلى الله عليه وسلم- فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا. فَيَقُولُ لاَ. إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ. تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ الأُمَّةَ
”Sekelompok dari umatku ada yang akan terus membela kebenaran hingga hari kiamat. Menjelang hari kiamat turunlah ’Isa bin Maryam. Kemudian pemimpin umat Islam saat itu berkata, ”(Wahai Nabi Isa), pimpinlah shalat bersama kami.” Nabi ’Isa pun menjawab, ”Tidak. Sesungguhnya sudah ada di antara kalian yang pantas menjadi imam (pemimpin). Sungguh, Allah telah memuliakan umat ini.”
Dalam hadits yang muttafaqun ’alaih (disepakati Bukhari dan Muslim), Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ
”Bagaimana kalian jika ’Isa bin Maryam turun di tengah-tengah kalian dan imam kalian dari kalangan kalian sendiri?”
Abu Dzar Al Harowiy, dari Al Jauzaqi, dari sebagian ulama masa silam mengatakan bahwa makna ”Imamukum minkum” (Imam kalian adalah dari kalian sendiri), yaitu imam tersebut berhukum dengan Al Qur’an dan bukan dengan Injil.
Ibnu At Tiin mengatakan, ”Makna ”Imamukum minkum” (Imam kalian adalah dari kalian sendiri), yaitu bahwa syari’at Nabi Muhammad itu akan terus dipakai hingga hari kiamat.”
Ringkasnya, maksud penjelasan di atas bahwa Imam Mahdi adalah sebagai imam (pemimpin) kaum muslimin ketika itu. Termasuk pula Nabi Isa ’alaihis salam, beliau akan bermakmum di belakang Imam Mahdi. Beliau pun akan mengikuti syari’at Islam.
Riwayat yang Membicarakan Imam Mahdi adalah Mutawatir
Mutawatir secara bahasa berarti berturut-turut (tatabu’). Secara istilah, hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan dari jalan yang sangat banyak sehingga mustahil untuk bersepakat dalam kedustaan karena mengingat banyak jumlahnya dan kesholihannya serta perbedaan tempat tinggal.
Hadits mutawatir ada dua macam yaitu mutawatir lafzhi dan mutawatir ma’nawi. Mutawatir lafzhi adalah hadits yang jumlah periwayatannya amat banyak dan semuanya menggunakan lafazh yang sama atau hampir sama. Sedangkan mutawatri ma’nawi adalah hadits yang membicarakann suatu masalah dengan berbagai macam redaksi, namun menunjukkan pada satu pembicaraan.
Hadits yang membicarakan mengenai kemunculan Imam Mahdi adalah hadits mutawatir ma’nawi. Artinya, hadits tersebut membicarakan mengenai Imam Mahdi dengan berbagai macam redaksi, namun intinya atau maksudnya sama yaitu membicarakan kemunculan Imam Mahdi. Ini menunjukkan bahwa kemunculannya mustahil untuk dikatakan dusta.
Al Hafizh Abul Hasan Al Aabari mengatakan, ”Berita yang membicarakan munculnya Imam Mahdi adalah hadits yang mutawatir dan amat banyak riwayat yang berasal dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang membicarakan mengenai kemunculannya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ”Hadits-hadits yang membicarakan mengenai kemunculan Imam Mahdi adalah hadits yang shahih sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud, At Tirmidzi, Ahmad dan selainnya, dari hadits Ibnu Mas’ud atau yang lainnya.”
Asy Syaukani mengatakan, ”Hadits-hadits yang membicarakan mengenai kemunculan Imam Mahdi yang dinanti-nanti ada dalam 50 hadits. Di antara hadits tersebut ada yang shahih, hasan dan dho’if. Hadits yang membicarakan Imam Mahdi dipastikan adalah hadits mutawatir, tanpa keraguan sedikit pun. … Begitu pula berbagai riwayat dari para sahabat tentang kemunculan Imam Mahdi amat banyak. Bahkan perkataan para sahabat ini dapat dihukumi sebagai hadits marfu’ yaitu perkataan Nabi, karena tidak mungkin ada ruang ijtihad dari mereka dalam masalah ini.”
Shidiq Hasan Khon –ulama India dan merupakan murid Asy Syaukani- mengatakan, ”Hadits yang membicarakan mengenai kemunculan Imam Mahdi dengan berbagai macam periwayatan adalah amat banyak, bahkan sampai derajat mutawatir ma’nawi. Hadits-hadits yang membicarakan hal tersebut disebutkan dalam berbagai kitab Sunan dan selainnya, juga dalam berbagai mu’jam dan kitab musnad.”
Demikian pembahasan kami mengenai Imam Mahdi.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Sumber: rumaysho

Ateisme dan Agnotisme Bertentangan Dengan Ilmu Pengetahuan



http://www.youtube.com/watch?v=7WSkI1Vly5o&feature=player_embedded


Pada tulisan kali ini kita akan fokus membahas ateisme. Aku ingin memulainya dengan membaca kutipan F.W. Norwood “Tragedi terbesar kehidupan adalah ketika seseorang kehilangan Tuhan dan tidak merindukan-Nya.” Para ateis mengaku mereka bisa menjelaskan keberadaan manusia melalui ilmu pengetahuan, melalui Big Bang, dan evolusi karena jawaban ini memuaskan mereka. Masalahnya teori Big Bang dan evolusi bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Kenapa? Karena prinsip umum dari ilmu pengetahuan adalah konsep entropi. Entropi adalah sebuah prinsip yang mengatakan semua akan menjadi kacau kecuali ada yang mengendalikannya. Jika ada yang mengatur dalam suatu proses, barulah proses itu berjalan dengan teratur.
Dan tidak peduli apakah kau membicarakan tentang kamar anakmu, wastafel dapur, atau reaksi kimia yang rumit. Jika tidak ada yang mengurus kamar anakmu, maka kamar anakmu akan jadi berantakan. Jika tidak ada yang membersihkan cucian kotor di wastafel dapur maka mereka makin bertumpuk, dan jika tidak ada yang mengendalikan reaksi kimia maka dia akan berantakan dan terkadang menjadi bencana. Jika tidak ada yang mengatur suatu proses maka hal itu akan menjadi kacau. Dengan begitu, melalui proses yang menjadikan adanya keteraturan, maka harus ada kekuatan yang mengendalikan proses tersebut.
Tapi apakah kita dapat percaya bahwa Big Bang, kejadian yang paling dashyat dalam sejarah, dimana semua materi dan energi di jagat raya berkumpul dalam sebuah inti yang sangat padat kemudian meledak hingga menciptakan jagat raya yang diameternya 240.000.000.000.000.000.000.000 mil dan hal ini terjadi karena kebetulan? Dan ledakan ini bukannya menghasilkan kekacauan tapi malah menghasilkan kesempurnaan dalam harmoni? Dan milyaran galaksi tapi tidak satupun yang bertabrakan satu sama lain?
Dan juga apakah kita harus percaya bahwa evolusi yang merupakan proses perkembangan elemen-elemen primitif, amino acid yang merupakan dasar dari terbuatnya dinding protein yang berkembang menjadi organisme bersel tunggal. Kemudian organisme bersel tunggal berevolusi dalam jangka waktu jutaan tahun menjadi berbagai macam makhluk hidup dan hal ini menciptakan keberagaman kehidupan? Sekali lagi proses ini seharusnya menjadi kacau jika tidak ada yang mengendalikan bukan malah menjadi sempurna. Karena alasan itu, para peneliti sekarang telah memungkiri konsep evolusi dan memberi label “The Intelligent Design.” Mereka menyimpulkan tidak mungkin semua ini terjadi tanpa ada pengendalian dari kuasa yang lebih tinggi.
Dan ada masalah lain juga, contohnya evolusi atau seleksi alam bisa menceritakan tentang keragaman hayati. Dia dapat menjelaskan mengapa kuda jutaan tahun lalu bertubuh pendek dan kemudian mereka menjadi tinggi. Dia dapat menjelaskan darimana asalnya dinosaurus dan kemana mereka pergi.
Tapi yang tidak dapat dijelaskan adalah keberadaan nyawa. Darimana asal nyawa dan bagaimana mungkin nyawa juga berevolusi? Darimana kehidupan berasal? Ketika makhluk hidup atau hewan mati, terkadang organnya masih berfungsi. Jika organnya masih berfungsi, tapi kenapa tubuhnya mati? Kemana hidupnya pergi dan darimana asalnya? Kita bisa mentransplantasi hampir semua organ di tubuh, kita bisa membuat sebuah Frankenstein, tapi tak seorangpun yang dapat membuatnya hidup. Bahkan semua ilmuwan di seluruh dunia tidak bisa menciptakan sayap seekor lalat. Kita tidak bisa menciptakan makhluk hidup sama sekali.
Dan ada sebuah pepatah yang mengatakan “There’s no atheist in a foxhole.” Yang berarti semua orang pernah mengalami panik dan putus asa. Pada masa-masa itu mereka meminta bantuan tidak kepada siapapun, kecuali kepada Sang Pencipta. Kata yang terucap adalah “Oh Tuhan tolong aku” bahkan dari mulut seorang ateis.
Seorang penyair Inggris, Elizabeth Browning dalam The Cry of the Human menuliskan dua buah bait yang sangat indah “Dan mulut mengatakan: Tuhan kasihanilah aku tapi dia tidak pernah mengatakan terpujilah Tuhan.” Akan datang suatu masa ketika semua manusia dikumpulkan pada hari kiamat dan mereka yang tidak pernah mengagungkan Tuhan memohon agar Tuhan mengampuni mereka. Tapi bagaimana mungkin mereka mengharapkan ampunan dari Tuhan yang tidak pernah mereka kenal dan tidak pernah sembah? 
Do’a seorang skeptis adalah awal yang bagus. Bagi kalian yang tahu bagaimana kisahku masuk Islam, ketahuilah bahwa kisahku dimulai dengan do’a orang skeptis. Do’a yang kupanjatkan adalah “Oh Tuhan jika memang Kau ada...” Aku bahkan tak yakin akan adanya Tuhan karena aku seorang ateis pada waktu itu. Banyak orang berpikir bahwa aku orang Kristen dan aku masuk Islam melalui Kekristenan, tapi itu tidaklah benar. Aku tadinya seorang ateis yang menjadi religius, yang mencari kebenaran tapi tidak dapat menemukannya dalam Kekristenan. Akhirnya aku menemukannya dalam Islam. Aku adalah seorang ateis yang berdo’a “Oh Tuhan jika Kau ada, tolonglah aku dan tuntunlah aku.” Dan aku berjanji, jika Tuhan menuntunku ke dalam agama yang paling menyenangkan-Nya, maka aku akan mengikutinya. Dan itu adalah do’a yang dapat dilakukan siapapun. Berdo’alah kepada Pencipta kita seperti itu.
Jadi ketika kita melihat masa lalu, kita akan melihat orang-orang terkenal membicarakan hal ini, Francis Bacon berkomentar:
“Aku lebih baik percaya semua dongeng dan legenda dalam Talmud dan Al-Qur’an daripada percaya bahwa jagat raya yang sempurna ini tanpa ada yang mengendalikan. Tuhan tidak pernah menciptakan keajaiban untuk meyakinkan para ateis, karena ciptaan-Nya yang biasa sudah cukup meyakinkan.”
Lebih banyak seseorang belajar tentang keragaman hayati, maka seharusnya mereka tahu bahwa hal ini tidak mungkin terjadi karena kebetulan. Sekali lagi, jika kita lihat teori evolusi, bagaimana mungkin mereka malah menghasilkan kesempurnaan bukannya kekacauan? Jika kita melihat sebuah gedung, maka kita tahu bahwa ada seorang arsitek, kita melihat sebuah patung, maka kita tahu bahwa ada seorang pembuat patung, kita lihat sebuah lukisan, maka kita tahu ada pelukisnya, tapi mengapa jika kita melihat makhluk hidup, kita tidak mengenal adanya Pencipta? 
Banyak orang gagal melihat aspek kehidupan yang mereka anggap “tidak bersifat Ketuhanan.” Mereka berkata “Bagaimana mungkin jika Tuhan itu ada, tragedi ini dan itu masih saja terjadi?” Tapi siapa diri kita sehingga berani mempertanyakan metode dari Pencipta kita? Ya, ada sebagian bayi yang mati. Dan juga ada pepatah yang mengatakan “Siapa yang dicintai Tuhan, akan mati muda.” Dapatkah seseorang mengerti pepatah ini? Aku mengerti. Hal itu masuk akal bagiku. Jika ada siapapun yang ditanya “Apa yang lebih kau inginkan, untuk melanjutkan hidup ini atau langsung pergi ke surga?” Mereka tentu langsung ingin menuju surga. Jadi apakah kematian seorang bayi adalah tragis? Menurutku, itu bukanlah kematian, itu adalah tahap menuju kehidupan selanjutnya.
Banyak ateis angkat mengatakan “Bagaimana mungkin tragedi ini terjadi dan kau masih menganggap Tuhan ada?” Dan aku hanya ingin memberitahukan bahwa tidak semuanya merupakan tragedi bagi orang yang mengalaminya. Seorang anak yang mati dan pergi ke surga, jika dia ditanya ketika mereka di surga, apakah itu merupakan sebuah tragedi atau nikmat Tuhan, tentunya mereka akan mengatakan “Ini adalah nikmat dari Tuhan.” Jadi semua ini hanyalah menurut sudut pandang masing-masing orang.
Dan dalam kehidupan dunia ini, orang-orang pilihan Tuhan-lah yang mengalami cobaan terbesar. Mereka direndahkan oleh kaumnya sendiri, disiksa, dibunuh, anak-anak mereka ada yang mati. Jadi kita harus mengerti bahwa hidup ini merupakan ujian. Hidup ini adalah tempat membuktikan apakah kita layak menerima hadiahnya dalam kehidupan akhirat. Surga itu diraih dengan usaha, kau meraihnya lewat kesusahan, bukan dari kesenangan duniawi.
Satu hal yang ingin kusimpulkan adalah tidak seorang pun yang ingin mengakhiri sebuah kejadian yang menyenangkan dengan tragedi. Tidak seorang pun yang pergi bersenang-senang di suatu kota, kemudian kecopetan, dan menyimpulkan “Wow, itu menyenangkan, aku ingin merasakannya lagi.” Tidak seorang pun yang mengalami pengalaman paling menyenangkan tapi pada akhirnya berakhir dengan sebuah tragedi yang menyedihkan, dan menyimpulkan bahwa itu menyenangkan. Begitu juga, kita seharusnya tidak melihat hidup ini sebagai waktu untuk bermain-main dan pada akhirnya malah masuk neraka di akhirat.
Tapi, seperti yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an “Kehidupan di dunia ini adalah sedikit saja dari kesenangan hidup di akhirat.” Kesenangan duniawi yang didapat para kriminal tidak setimpal dengan hukuman yang akan mereka terima di akhirat.
Jarang ada makan siang gratis di dunia ini. Setiap orang tahu, jika kau ingin dibayar dalam tempat kerjamu, maka kau harus bekerja. Jika kau lalai, maka kau akan dipecat. Sebuah produk yang tidak memuaskan akan dibuang. Jika kita diumpamakan sebuah produk dan kita tidak memuaskan, maka kita akan masuk neraka.
Sekali lagi aku akan kutip ayat Al-Qur’an “Dan Aku tidak menciptakan golongan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.” Jadi itulah pekerjaan kita, untuk melayani dan menyembah Pencipta kita. Seperti yang dikatakan Francis Bacon:
“Mereka yang menolak Tuhan berarti menghancurkan kehormatan manusia. Karena pastinya jasmani manusia sama dengan hewan. Jika dia tidak merindukan Tuhan dengan jiwanya, maka dia adalah hewan dan makhluk yang hina.”
Semoga kita semua dijauhkan dari ateisme. Jika kau tidak percaya adanya Tuhan, maka jadi sukar untuk beribadah kepada Tuhan. Solusinya adalah berdo’a dengan tulus dan meminta kepada Sang Pencipta “Oh Tuhan jika kau ada, maka tuntunlah aku kedalam agama kebenaran. Dan jika memang ada agama kebenaran, maka aku akan mengikutinya.” Jika kau berdo’a dengan ikhlas dan tulus, Insya Allah Sang Pencipta menjawab do’a itu.
Sekarang kita akan mendiskusikan agnotisme. Agnotisme adalah orang-orang yang tidak tahu bagaimana caranya agar percaya pada Tuhan. Konsep agnotisme adalah a-nostik, “tidak mengetahui” atau tidak dapat membuktikan. Dibaca dari huruf latinnya, “a” berarti tidak dan “nostik” berarti pengetahuan. 
Jadi mereka tidak dapat membuktikan keberadaan Tuhan. Menurut definisi Thomas Henry Huxley yang menciptakan istilah agnotisme, mereka bisa saja orang Kristen, seorang Yahudi, atau Muslim, dan mereka dikategorikan agnostik. Maksudnya mereka percaya dan menyembah Tuhan, tapi mereka tidak bisa membuktikan keberadaan Tuhan. Apa yang membuat hati seseorang menjadi yakin tentang adanya Tuhan? Pengetahuan religius tidak seperti pengetahuan akademis. Dia berasal dari hati dan juga intelektual. Pengetahuan agama dan menjadi yakin akan adanya Sang Pencipta, merupakan hadiah dari Pencipta kita. 
Jadi seseorang bisa mengaku sebagai seorang ateis  atau agnostik dan ideologi itu memuaskan mereka. Tapi ada banyak hal dalam kehidupan yang tidak dapat dibuktikan. Misalnya kau tidak bisa melihat gravitasi. Pada dasarnya kau tidak bisa melihat sebuah black hole, meskipun ada bukti-bukti yang menunjukkan keberadaan black hole. Kau juga tidak dapat membuktikan rasa laparmu, kau tidak dapat membuktikan sakit kepalamu. Kau dapat menunjukkan gejala-gejalanya tapi kau tidak dapat membuktikannya. Kita mempercayai gravitasi, entropi, lubang hitam. Emosi kita merasakannya dan ada bukti-bukti kuat yang menandakan keberadaan mereka. Dan begitu juga bukti-bukti yang sangat banyak membuktikan bahwa memang ada Sang Pencipta. Seseorang bertanya “Mengapa kau percaya adanya Tuhan?” Dan dia menjawab:
“Jika aku melihat jejak kambing, maka aku tahu pasti ada domba atau kambing yang lewat. Jika aku melihat jejak kaki unta, aku tahu pasti ada seekor unta. Dan jika aku melihat jejak manusia, maka aku tahu ada orang yang lewat. Dan jika aku melihat makhluk hidup, maka aku tahu adanya Sang Pencipta.”
Jadi bagi mereka yang tidak yakin akan adanya Tuhan, jangan berputus asa karenanya. Berdo’alah kepada Sang Pencipta agar Dia menunjukkannya kepadamu. Berdo’alah, “Oh Tuhan, jika Kau ada...” Dengan begitu, aku harap suatu hari nanti kita semua percaya keberadaan Tuhan. Dan ketika kita percaya, langkah berikutnya adalah untuk menelusuri rantai wahyu dan sampai pada agama kebenaran.

3 Argumen Terbaik untuk Membantah Ateisme | Bukti Bahwa Tuhan Itu Ada


Di dalam Quran, Allah telah berfirman sekitar 750 kali agar kita mengintrospeksi diri. Misalnya dalam surat Fushshilat ayat 53, Allah berfirman:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quraan itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Q.S. Fushshilat:53)

Ketika kita berpikir menggunakan ilmu pengetahuan dan logika, maka kita akan tahu bahwa hanya ada satu Tuhan dan ketika kita meneliti Al-Qur'an, maka kita akan tahu bahwa inilah firman Tuhan yang sesungguhnya.

Dan inilah keunggulannya, Islam tidak menjauhkan ilmu pengetahuan, Islam tidak mengesampingkan para ilmuwan seperti yang dilakukan beberapa agama di masa lalu.
Segala yang telah diteliti di masa sekarang oleh para ilmuwan, ternyata terbukti secara ilmiah di dalam ayat-ayat Al-Qur'an.
Maka sekarang mari kita bahas ketiga argumen yang akan membuktikan keberadaan Tuhan dan membantah paham ateisme.
Argumen #1: Hukum Kedua Termodinamika.
Mungkin melihat dari istilahnya, kita akan berpikir bahwa hukum ini rumit, tapi sebenarnya sangat mudah dimengerti. Hukum fisika ini pada dasarnya mengungkapkan fakta bahwa segala hal di di jagat raya ini bergerak dari keteraturan menuju kekacauan.
Misalnya, jika kita tidak mengurus rumah kita, maka catnya akan pudar, debu-debu akan menumpuk, dan pada akhirnya rumah kita akan rusak.
Sekarang jika kau mengambil hukum Kedua Termodinamika ini menjadi pernyataan logika, keseluruhan jagat raya ini adalah sistem yang besar, jadi jagat raya juga harusnya bergerak dari keteraturan menjadi kekacauan. Seperti yang dikatakan ilmuwan, jika periode waktu yang lama telah berlalu, maka akan terjadi kekacauan.
Dan setiap benda terdiri dari atom. Atom tersebut terdiri dari elektron, proton, dan neutron. Setiap atom yang ada dalam setiap benda selalu bergerak dan berputar. Atom-atom yang bergerak dan berputar tersebut pada suatu saat akan kehabisan energi, jadi suatu hari nanti jagat raya akan berakhir.
Tapi kata orang-orang ateis jagat raya ini tanpa ada permulaan dan takkan pernah berakhir. Tapi hal ini bertentangan dengan Hukum Kedua Termodinamika, karena menurut hukum ini, jika periode waktu yang lama telah berlalu, akan terjadi kekacauan dan jagat raya akan mati total.
Hal ini berarti matahari tidak akan ada, dan eksistensi manusia tak akan pernah terjadi. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, matahari bersinar, planet-planet mengorbit dalam orbitnya masing-masing, dan manusia dapat hidup dengan baik. Itu berarti kita tidak berada dalam keadaan “matinya alam semesta”, bukankah begitu? Dan karena kita tidak berada dalam keadaan matinya alam semesta, itu berarti belum cukup waktu yang berlalu. Jika belum cukup waktu yang berlalu, itu berarti waktu ada permulaannya, jagat raya juga ada permulaannya. Jika jagat raya ada permulaannya, berarti segala sesuatu yang mulai eksis harus ada yang memulainya. Dan kita sebagai Muslim percaya bahwa Allah yang memulainya.


Planet-planet mengorbit di jalurnya masing-masing tanpa pernah bertabrakan

Perhatikanlah Surat Al-Baqarah ayat 255 berikut ini:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S. Al-Baqarah:255)

Jadi mari aku menyimpulkannya. Apapun yang mulai eksis, harus ada yang memulainya, sedangkan dunia ini ada permulaannya. Karena kita tidak dalam keadaan matinya alam semesta, maka waktu bersifat terbatas. Jika jagat raya mulai eksis, maka ada Sesuatu yang memulainya. Dan Yang memulai alam semesta adalah Sang Pencipta.

Argumen #2: Keteraturan Jagat Raya.
Sekarang dalam sebuah analogi singkat, misalnya kita sedang duduk untuk menonton TV di dalam rumah kita. Kita duduk di kursi dan kursinya harus ditempatkan dalam posisi yang benar. TV-nya juga harus diatur menghadap ke arah kita, agar kita dapat menontonnya. Kita juga harus punya remote TV yang sesuai dengan merek TV kita, agar kita dapat mengganti-ganti channelnya semau kita. Jadi seiring kita duduk menonton TV, bagaimana mungkin kita tidak melayang, bagaimana mungkin kita tidak tertekan ke bawah? Ini berarti ada cukup gaya gravitasi untuk menahan kita sehingga kita dapat duduk dengan baik. Jika gaya gravitasi kurang sedikit saja, maka kita akan melayang ke atas. Jika gravitasi terlalu banyak, maka tubuh kita akan hancur karena menopang berat kita. Jadi harus ada yang mengatur gravitasi dalam takaran yang tepat di bumi.

Udara yang kita hirup saat ini harus mengandung 78% nitrogen dan 21% oksigen. Misalnya kadar oksigennya lebih besar atau lebih rendah, maka kita tidak mampu bertahan hidup di bumi ini. Siapa yang menempatkan oksigen dalam takaran yang pas agar kita, hewan, dan tumbuh-tumbuhan dapat hidup?

Contoh sederhananya begini: Misalnya seseorang membawakan kita secangkir kopi, maka takaran gulanya harus pas, karena kita tidak akan suka jika gula atau krimnya terlalu banyak. Kalau takarannya pas, maka kopi itu akan terasa nikmat. Begitu juga, jarak antara bumi dan matahari benar-benar dalam jarak yang tepat. Jika sedikit saja lebih dekat, bumi akan sangat panas dan kehidupan akan punah. Jika sedikit lebih jauh dari matahari, maka bumi akan sangat dingin sehingga kehidupan juga akan punah. Jadi ada begitu banyak variabel yang ditakar dengan sangat pas di bumi, di dalam tubuh kita, di dalam sel kita, dan di jagat raya, sehingga tidak mungkin ini semua terjadi secara kebetulan.

Jarak bumi ke matahari berada dalam jarak yang sangat pas

Argumen #3: Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan firman Tuhan yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad S.A.W. oleh Allah S.W.T. Al-Qur’an punya banyak mukjizat di dalamnya. Al-Qur’an punya mukjizat bahasa, mukjizat berupa nubuat-nubuat termasuk juga sabda Nabi Muhammad, ada fakta ilmiah, fakta sejarah, jadi Al-Qur’an merupakan sebuah kitab yang komprehensif. Sekarang, mari kita bahas fakta ilmiah  Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah kitab yang diwahyukan 1.400 tahun yang lalu pada saat tidak ada teknologi modern. Bahkan, Nabi Muhammad S.A.W. tidak dapat membaca atau menulis. Allah mewahyukannya kepada Muhammad S.A.W. ketika dunia terselubung kegelapan. Al-Qur’an membawa cahaya ke dalam dunia yang suram. Ketika dalam kitab-kitab sebelumnya ditemukan banyak kesalahan ilmiah karena tangan-tangan manusia telah merusaknya, maka di dalam Al-Qur’an tidak ada kontradiksi sama sekali. Manusia pada saat itu berpikir bahwa agama dan pengetahuan tidak bisa selaras, tapi Al-Qur’an membantah anggapan itu karena di dalamnya terdapat begitu banyak fakta ilmiah yang membuat kagum ilmuwan-ilmuwan terkenal di dunia. Di antara 6.000 ayat Quran, sebanyak 500 ayat berhubungan dengan fakta-fakta ilmiah.

Jika kita bertanya pada ilmuwan atau kosmologis di luar sana tentang proses pembentukan alam semesta, mereka akan berkata bahwa langit dan bumi berada dalam satu massa primordial, kemudian terjadi ledakan besar 14 milyar tahun yang lalu, dan dari ledakan itu terciptalah sistem tata surya. Dan yang menakjubkan adalah semua ini telah difirmankan dalam surat Al-Anbiyya:30

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Q.S. Al-Anbiyya:30)


Kemudian dari penelitian para ilmuwan kita mengetahui bahwa tahap awal pembentukan semesta berbentuk seperti asap/kabut. Dan dari situ mulai terbentuklah benda-benda langit. Ternyata hal ini sudah difirmankan dalam Quran surat Fushshilat:11.

Lalu pada tahun 1960, manusia mengenal tentang Red Shift dan Blue Shift, sebuah fakta yang membuktikan bahwa jagat raya ini terus meluas. Semua bintang-bintang saling menjauh satu sama lain. Mereka memenangkan piala nobel di sekitar tahun 1960 karena penemuan ini. Dan lagi-lagi Quran telah berfirman dalam surat Adz Dzaariyaat:47 bahwa Allah yang menciptakan langit kemudian Dia meluaskannya. Semua ini sudah difirmankan 1.400 tahun yang lalu, sebelum adanya ilmu pengetahuan apapun.

Dan tentang bentuk bumi, orang-orang dulu berpikir bahwa bumi ini datar. Namun Quran berfirman bahwa bentuk bumi seperti telur burung unta dalam surat An Naaziaat:30.

Quran juga membahas tentang bagaimana bayi tumbuh di dalam rahim seorang ibu dalam surat Al-Mu’minuun:12-14.

Quran menjelaskan tentang pegunungan dan akar pegunungan dalam surat An-Naba’:6-7. Disana disebutkan bahwa pegunungan seperti tenda dan punya akar. Totalnya ada 500 fakta ilmiah,  disebutkan dalam kitab yang ditulis 1.400 tahun yang lalu ini.

Dan ada begitu banyak ilmuwan seperti Dr. Keith Moore, Marshall Johnson, Joe Simpson, Maurice Bucaille, dan ilmuwan-ilmuwan lainnya, yang mempelajari Quran untuk sekian lama, dan mereka semua menyimpulkan bahwa kitab dan ayat-ayat di dalamnya tidak mungkin ditulis seorang manusia, ini tentunya dari Sang Pencipta. Mereka adalah orang-orang yang ahli dalam bidang ilmu pengetahuan, contohnya Dr. Keith Moore, dia embriologist yang terkenal.

Sekarang sebuah fakta yang ingin saya jelaskan adalah mengenai embriologi, bagaimana seorang bayi berkembang dalam rahim sang ibu. Disebutkan dalam surat Al-Mu’minuun:12 -14 mulai dari fertilisasi hingga ke perkembangan organ-organ tubuh janin, yang menjelaskan dengan detail keadaan ketika embrio berumur sekitar 6-7 hari. Quran menggambarkan embrio pada periode itu bagaikan lintah, dia berada di dalam rahim dan menghisap nutrisi dari sang ibu. Yang mengejutkan adalah bentuknya, morfologi, dan fungsinya memang menyerupai seekor lintah. Semua ini baru bisa dilihat dengan mikroskop berkekuatan tinggi. Manusia dengan mata telanjang tidak dapat melihat hal-hal ini, apalagi 1.400 tahun yang lalu belum ada mikroskop. Semua ini membuktikan bahwa informasi ini tidak mungkin datang dari seorang manusia, karena pengetahuan ini baru ditemukan di abad ke-20.

Figur A. = Embrio dan Figur B. = Lintah. Bentuk Embrio manusia pada umur 6-7 hari benar-benar menyerupai lintah.

Jadi setelah mendengarkan ketiga argumen ini, seseorang yang mau berpikir dapat mengetahui keberadaan Tuhan menggunakan ilmu pengetahuan, logika, filosofi, sejarah, dan segala bidang ilmu pengetahuan. Jika Tuhan ada, dan ada begitu banyak agama, bagaimana kita tahu mana agama yang benar? Jawabannya adalah bahwa Tuhan telah mengirimkan wahyu-Nya yang terakhir dalam Al-Qur’an. Jadi Islam adalah jalan hidup yang benar. Islam berarti tunduk pada Tuhan Yang Maha Esa dan mengiktui petunjuk-Nya. Di dalam Islam, seseorang akan menemukan solusi kehidupan.

Mungkin setiap orang ingin tahu, apa tujuan kehidupan? Apakah kita disini hanya untuk mendapatkan uang, kerja siang dan malam, atau hidup lebih dari sekedar itu? Tuhan berfirman dalam Quran Adz-Dzaariyaat:55 bahwa tujuan kehidupan adalah untuk menyembah-Nya. Jadi ketika kita melakukan itu dalam rasa kerohanian, maka kita akan menemukan kedamaian dan tujuan hidup. Dengan begitu seseorang akan menemukan solusi terhadap semua masalahnya. Solusi terhadap masyarakat, ekonomi, obat-obatan, homoseksualitas, keluarga, dan sebagainya adalah Islam. Insya Allah dengan Islam seseorang akan mendapatkan kedamaian dan tujuan hidup, dan kebahagiaan berupa surga di akhirat.

 

HARAMNYA SEPILIS

13 7 comments
Definisi Sepilis

"SEPILIS" adalah singkatan dari SEKULARISME, PLURALISME dan LIBERALISME.

SEKULARISME ialah suatu isme (aliran pemikiran/pemahaman) yang mempercayai dan meyakini serta "mengimani" bahwa agama harus dipisah dari negara, sehingga dalam mengelola negara tidak boleh membawa simbol / atribut agama apalagi ajaran agama. Dalam prakteknya, SEKULARISME telah menjadi suatu IDEOLOGI yang ANTI AGAMA, bahkan MEMUSUHI AGAMA.

PLURALISME ialah suatu isme (aliran pemikiran / pemahaman) yang mempercayai dan meyakini serta “mengimani” bahwa semua agama SAMA dan BENAR, sehingga SIAPA PUN - termasuk Nabi dan Rasul sekali pun - TIDAK BERHAK mengklaim ajaran agamanya yang paling benar. Dalam prakteknya, PLURALISME telah menjadi suatu IDEOLOGI LINTAS AGAMA yang mencampur- adukkan ajaran semua agama.

LIBERALISME ialah suatu isme (aliran pemikiran / pemahaman) yang mempercayai dan meyakini serta "mengimani" banwa nash AI-Qur'an dan As-Sunnah harus tunduk kepada AKAL dan bahwasanya manusia memiliki KEBEBASAN MUTLAK. sehingga SIAPA PUN - termasuk Tuhan sekali pun - TIDAK BERHAK untuk mewajibkan / mengharamkan sesuatu atas manusia Karena WAJIB / HARAM adalah pemasungan kebebasan dan pemerkosaan HAM. Dalam prakteknya, LIBERALISME telah menjadi suatu IDEOLOGI yang MEMBOLEHKAN berbagai kemunkaran, seperti pornografi / pornoaksi, perzinahan, homosex, lesbian, pelacuran. pemurtadan, aliran sesat dan penistaan agama.

FATWA MUI No. 7 Tahun 2005

Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme Agama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan hukumnya HARAM.

PLURALISME tidak sama dengan PLURALITAS

Islam menolak PLURALISME karena merupakan IDEOLOGI PENCAMPUR-ADUKKAN AQIDAH. Tapi Islam menerima PLURALITAS karena merupakan SUNNATULLAH sebagai Dinamika Kehidupan yang menghargai keragaman kemajemukan dan kebhinekaan.

Karenanya, umat Islam bisa hidup berdampingan dengan umat beragama lain secara damai penuh toleran, saling menghargai dan menghormati. Tiap umat beragama bebas meyakini kebenaran agamanya masing-masing. dan bebas untuk tidak menerima kebenaran agama lain, namun tidak boleh menistakannya. Mereka tidak boleh dipaksa untuk membenarkan agama lain sebagaimana yang dilakukan KAUM SEPILIS.

Intinya, Islam sangat menghargai KEBEBASAN BERAGAMA, tapi menolak PENCAMPUR-ADUKAN AGAMA dan PENODAAN AGAMA.

BUKTI KESESATAN SEPILIS

Buku FIQIH LINTAS AGAMA karya Tim Penulis PARAMADINA yang terdiri dari Prof DR. Nurcholish Majid (Pendiri Paramadina), Prof. DR. Komaruddin Hidayat (RektorUIN Jakarta), DR. Kautsar Azhari Noer (Dosen UIN Jakarta), DR. Zainun Kamal (Dosen UtN Jakarta). KH, Masdar F. Mas'udi (Ketua PBNU), Zuhain Misrawi, Lc (Kader Muda NU dan anggota Baitul Muslimin Indonesia–PDIP), Budhy Munawar Rachman (Dir. Program Paramadina), Ahmad Gaus AF (Dir. Publikasi Liberal for All Foundation - USA), dan sebagai Editor; Mun'im A. Sirry, MA (Peneliti Paramadina). Diterbitkan oleh Yayasan Waqaf Paramadina & The Asian Foundation, tahun 2004. Isi bukunya sebagai berikut:

  • Menghina FIQIH sebagai belenggu kehidupan dan memfitnahnya sebagai ajaran yang mendiskreditkan agama lain, bahkan sebagai penyebar kebencian dan kecurigaan terhadap agama Islam. (Kata Pengantar hal. ix dan Mukadimah hal. 2).
  • Mengnina periode dan generasi AS-SALAF ASH-SHOLIH sebagai penyebab kebekuan pemahaman, dan memfitnah IMAM SYAFI'I sebagai penyebab tidak berkembangnya pemikiran Islam lebih dua belas abad. (Mukadimah hal 4- 5).
  • Ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Madinah DISKRIMINATIF, EKSKLUSIF dan FUNDAMENTALISTIK. (hal. 142).
  • Umat beragama apa pun tidak kafir, karena semua agama sama dan benar. sehingga tidak boleh ada yang mengklaim bahwa agarnanya yang paling benar. (hal 133, 167, 206 - 207).
  • Atas Dasar HIKMAH dan KEMASLAHATAN persaudaraan, persahabatan, kedamaian, kerukunan, solidaritas, persatuan dan kehangatan pergaulan antar umat beragama, maka :
  • BOLEH mengucapkan SALAM kepada NON MUSLIM, bahkan WAJIB menjawab salam mereka. (hal. 72. 77 - 76).
  • BOLEH mengucapkan SELAMAT NATAL alau Selamat Hari Besar Agama apa pun, bahkan BOLEH ikut merayakannya (hal.84-85).
  • BOLEH MENDO'AKAN dan MINTA DO'A dari NON MUSLIM, termasuk DO'A BERSAMA, bahkan semua itu DIANJURKAN. (hal. 102 -103, 107).
  • BOLEH MASUK MASJID mana saja dan kapan saja bagi NON MUSLIM, termasuk MASJIDIL HARAM dan MASJID NABAWI. (hal. 110 & 118).
  • Hukum JIZYAH melecehkan NON MUSLIM, maka harus DINASAKH. (hal.151- 152).
  • BOLEH Kawin Beda Agama dan HARUS ada Waris Beda Agama (hal. 164 & 167).

Buku LOBANG HITAM AGAMA karya Sumanto AI-Qurtuby (alumnus IAIN Semarang) dengan Pengantar : Ulil Abshar Abdalla (Kader Muda NU, Pendiri JIL dan Dir. Freedom Institute), dan di-endos cover yang penuh pujian oleh : Gus Dur (Mantan Ketua PBNU & Mantan Presiden RI), DR. Moeslim Abdurrahman (Cendikiawan Muhammadiyah), Anif Sirsaeba Alafsana (Pengasuh Pesantren Karya Basmala Indonesia), Ahmad Tohari (Budayawan), dan Trisno S. Sutanto (Pengamat Sosial dan Keagamaan). Diterbitkan oleh Ilham Institute dan Rumah Kata, tahun 2005. Isinya sebagai berikut :

  • Agama bukan produk Tuhan (hal. 31).
  • Agama adalah penjajah budaya dan pemasung intelektual (hal. 55 & 58).
  • Agama mematikan akal dan nalar (hal. 59).
  • Agama sumber konflik dan pembawa bencana (hal 83 & 37).
  • Islam adalah strategi budaya Muhammad dan merupakan sinkretik, serta campuran budaya: Judaisme, Kristianisme dan Arabisme (hal 216. 217 dan 225).
  • Penulisan bahasa arab adalah Arabisme (hal. 22S)
        
PENISTAAN TERHADAP AL-QUR'AN :
  • Kemaslahatan lebih diutamakan daripada ayat-ayat Tuhan (hal. 31).
  • Umar ikut menciptakan Al-Qur'an (hal. 32).
  • Teks Al-Qur'an tidak autentik (hal. 34 & 37).
  • Nabi dan para sahabat adalah para pencipta Al-Qur'an (hal. 43).
  • Al-Qur'an angker dan perangkap bangsa Quraisy, serta dibuat oleh manusia dan bukan kitab suci (hal. 64 - 65)
  • Al-Qur'an membelenggu kebebasan dan rnenciptakan tragedi kemanusiaan (hal. 117).
  • Muhammad, Islam dan Al-Qur'an tidak terlepas dari distorsi / penyimpangan (hal. 126).
  • Kandungan Al-Qur'an kontroversi (hal. 142).
  • Al-Qur'an saja bermasalah, apalagi Kitab Kuning (hal. 146).

PENISTAAN TERHADAP NABI, SHAHABAT & ULAMA :
  • Utsman pelaku nepotisme dan keliru membuat mushaf Al-Qur'an (hal.39).
  • Nabi dan para Tokoh Non Muslim seperti : Gandhi, Luther, Bunda Terresa & Romo Mangun bersama-sama menunggu di Surga (hal. 45).
  • Kisah Heroik Para Nabi dan Mu'jizatnya hanya dongeng seperti : Sinetron "Saras 008” atau kisah heroik James Bond (hal. 58).
  • Nalar Politik Tirani dibentuk oleh Khulafa' Rasyidin (hal 124).
  • Para sahabat Nabi telah memperagakan Politik Islam dengan sangat sempuma mengerikannya (hal. 134).
  • Imam AI-Mawardi mengkhianati hak-hak rakyat dan seorang Rasis / Arabisme (hal150 & 155).
  • Doktrin Politik Sunni ambigu dan out of date / kadaluarsa (hal 167).
  • Al-'Asy'ari dan Al-Ma'turidi menjalin persekongkolan politik (hal. 171).
  • Ahlus Sunnah wal Jama'ah (ASWAJA) adalah sekte yang telah memanipulasi teks-teks keagamaan (hal. 229).
      
PENISTAAN TERHADAP SYARI'AT ISLAM :
  • Syari'at Islam menciptakan gerombolan mafia dan anjing-anjing penjilat kekuasaan (hal. 70).
  • Syari'at Islam diskriminatif terhadap perempuan dan non muslim (hal.131-132).
  • Formalisasi Syari'at Islam bukan hanya Utopis, tapi juga Tirani (hal. 134).        
PERNYATAAN TOKOH-TOKOH SEPILIS INDONESIA DAN JAWABANNYA
“Semua agama sama.  Semuanya menuju jalan kebenaran.  Jadi, Islam bukan yang paling benar.”  (Ulil Abshar Abdalla, dari majalah GATRA, 21 Desember 2002).

Pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah : apakah Ulil sudah pernah melakukan studi perbandingan agama sebelumnya? Jika ya, agama-agama apa sajakah yang sudah diperbandingkannya?  Selain itu, sebagai manusia yang intelek, seharusnya ia tidak membuat klaim begitu saja, melainkan memberikan bukti-bukti yang konkrit.  Alangkah lebih baik jika ia membuat sebuah buku yang membuktikan bahwa semua agama itu sama, atau menyelenggarakan sebuah seminar tentang itu, kemudian menjadikannya sebagai rujukan dalam wawancara, agar para pembaca tidak menelan bulat-bulat apa yang dikatakannya.  Kecuali, barangkali, ia memang ingin ucapannya ditelan bulat-bulat.  Jika ini yang terjadi, maka Ulil dan Islam Liberal sebenarnya adalah sebuah gerakan ekstremis yang dilandasi oleh pemahaman yang fanatik.  Terakhir, jika memang ia menganggap semua agama itu benar, mengapa ia mencatut nama Islam dalam organisasinya?  Alangkah lebih baiknya ia menyatakan diri sebagai penganut agama liberal dan mengubah nama JIL menjadi JAL (Jaringan Agama Liberal).  Menganut paham ‘semua agama benar’ sekaligus menggunakan nama ‘Islam’ adalah suatu kontradiksi yang amat mengherankan.



“Tapi, bagi saya, all scriptures are miracles, semua kitab suci adalah mukjizat.”  (Ulil Abshar Abdalla, dari koran Jawa Pos, 11 Januari 2004).

Sekali lagi, perlu dipertanyakan (atas nama keilmiahan) sejauh mana Ulil telah melakukan penelitian dan memperbandingkan semua kitab suci dari berbagai agama.  Samakah Al-Qur’an dengan Bible?  Bagaimana Ulil bisa berpendapat bahwa semua kitab suci adalah mukjizat?  Di manakah bukti-bukti kongkritnya?  Jika ia tidak bisa menjawab, maka sekali lagi, jelaslah bahwa JIL adalah organisasi ekstremis yang anggotanya fanatik dan taqlid buta pada pemimpinnya.



“Karenanya, yang diperlukan sekarang ini dalam penghayatan masalah pluralisme antaragama, yakni pandangan bahwa siapa pun yang beriman – tanpa harus melihat Agamanya apa – adalah sama di hadapan Allah.  Karena, Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang Satu.”  (Budhy Munawar Rahman, dari buku Wajah Liberal Islam di Indonesia terbitan JIL).

Tentu saja Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang Satu, Yang Maha Esa.  Apa pun agamanya, hanya ada satu ilah yang memegang kuasa penuh dan tak tertandingi.  Namun masing-masing agama memiliki definisi yang berbeda tentang ilah ini.  Umat Islam percaya pada Allah, umat Kristiani percaya pada konsep trinitasnya.  Samakah Allah dalam pemahaman agama Islam dengan konsep trinitas yang dipegang teguh oleh umat Kristiani?  Rasanya saya belum pernah mendengar ada orang yang mengatakan bahwa kedua konsep ketuhanan ini sama.  Selain itu, nampaknya Budhy Munawar Rahman ini khawatir bahwa memberikan predikat ‘kafir’ pada umat agama lain akan memicu kekerasan antarumat beragama.  Padahal, secara bahasa, ‘kafir’ berasal dari kata yang sama dalam bahasa Arab yang artinya ‘ingkar’.  Orang yang kafir adalah orang yang ingkar terhadap sesuatu (dalam hal ini ingkar terhadap ajaran Islam).  Tidak ada konsekuensi yang buruk sama sekali atas keingkarannya itu, karena Islam tidak merasa perlu memaksa orang lain untuk memeluk agama Islam.  Kekhawatiran kaum liberalis ini nampaknya mereka warisi dari para mentornya yang berasal dari Eropa yang masih trauma dengan peristiwa inkuisisi, yaitu pembantaian besar-besaran terhadap siapa saja yang dikategorikan ‘kafir’ oleh pihak Gereja.



“Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga Tuhan yang satu itu sendiri terdiri dari banyak pintu dan kamar.  Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya.  Syarat memasuki surga ialah keikhlasan pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan dan ketakutan, tanpa melihat agamanya.  Inilah jalan universal surga bagi semua agama.  Dari sini, kerja sama dan dialog pemeluk berbeda agama jadi mungkin.”  (Abdul Munir Mulkhan, dari buku Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar).

Pertama, ia mengawali pernyataan ini dengan kata “jika”.  “Jika semua agama memang benar sendiri…..” artinya adalah “belum tentu semua agama memang benar sendiri…..”.  Dengan sendirinya, semua pernyataan setelah itu adalah sebuah hipotesa belaka dan tidak perlu dianggap sebagai sebuah fakta, karena ia juga tidak pernah mengajukan secuil bukti dalam bentuk apa pun.  Kedua, ia melakukan sebuah kesalahan fatal, yaitu dengan menganggap dirinya sudah sama dengan Tuhan atau mampu berpikir layaknya Tuhan.  Dari mana datangnya teori bahwa semua agama pasti diridhai oleh Allah?  Entahlah!  Saya rasa tidak perlu dijawab, karena ia sendiri tidak mengajukan alasan apa pun.  Kesalahan fatal ketiga adalah dengan mengatakan bahwa teorinya (yaitu dengan menganggap semua agama sama) adalah pembuka jalan bagi kerja sama dan dialog antarumat beragama.  Kenyataannya, kerja sama dan dialog dapat terjadi tanpa harus mengakui teori Abdul Munir Mulkhan tersebut.  Saya menganggap kalimat terakhirnya itu adalah sebentuk megalomania yang menganggap bahwa teorinya adalah teori sapu jagat yang bisa menyelesaikan masalah.



“Jadi, pluralisme sesungguhnya adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, sehingga juga tidak mungkin dilawan atau diingkari.”  (Nurcholis Madjid, dari buku Islam Doktrin dan Peradaban).

Perlu dipahami bahwa pluralitas dan pluralisme adalah dua hal yang berbeda.  Pluralitas adalah fakta bahwa manusia diciptakan dalam keadaan yang berbeda-beda, sedangkan pluralisme (menurut definisi Nurcholis Madjid sendiri, namun tidak disetujui oleh Frans Magnis Suseno) adalah paham yang mengatakan bahwa semua agama itu sama, yaitu sama-sama benar.  Apakah paham ini adalah sunnatullah?  Apakah ia tak dapat dilawan?  Sebaiknya Nurcholis Madjid bersikap bijak dan menunggu hingga akhir jaman untuk melihat bukti apakah paham ini bisa dilawan atau tidak.  Kenyataannya, banyak orang yang sedang berjuang untuk melawannya.  Salah satunya adalah saya sendiri.  Jadi, kalau Cak Nur bilang bahwa pluralisme tidak mungkin dilawan, maka saya akan menjawab : “We’ll see.”



“Prinsip lain yang digariskan oleh Al-Qur’an adalah pengakuan eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas beragama dan dengan begitu, layak memperoleh pahala dari Tuhan.  Lagi-lagi, prinsip ini memperkokoh ide mengenai pluralisme keagamaan dan menolak eksklusifisme.  Dalam pengertian lain, eksklusifisme keagamaan tidak sesuai dengan semangat Al-Qur’an.  Sebab Al-Qur’an tidak membeda-bedakan antara satu komunitas agama dari lainnya.”  (Alwi Shihab, dari buku Islam Inklusif ; Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama).

Agaknya Alwi Shihab terlalu bersikap curiga pada umat Islam sampai-sampai perlu diinklusifkan.  Padahal sudah sejak dahulu umat Islam tidak pernah bersikap eksklusif, bahkan berhubungan baik dengan agama mana pun.  Jika memang ada sebagian Muslim yang bersikap ofensif terhadap umat agama lain, maka yang perlu dilakukan adalah menasihatinya untuk kembali pada ajaran Rasulullah saw., bukan mengarang-ngarang ajaran baru yang disebut sebagai ‘Islam Inklusif’ atau ‘Islam Pluralis’.  Embel-embel apa pun yang disandingkan dengan nama Islam menunjukkan bahwa ia bukanlah Islam murni.  Apakah Alwi Shihab hendak berkata bahwa Islam ini kekurangan sehingga perlu dilengkapi?  Sungguh sebuah gugatan yang amat tidak pantas terhadap Allah SWT!!! 



“Dan, konsekuensinya, ada banyak kebenaran (many truths) dalam tradisi dan agama-agama.  Nietzsche menegasikan adanya ‘Kebenaran Tunggal’ dan justru bersikap afirmatif terhadap banyak kebenaran.  Mahatma Gandhi pun seirama dengan mendeklarasikan bahwa semua agama – entah Hinduisme, Buddhisme, Yahudi, Kristen, Islam, Zoroaster, maupun lainnya – adalah benar.  Dan, konsekuensinya, kebenaran ada dan ditemukan pada semua agama.  Agama-agama itu diibaratkan, dalam nalar pluralisme Gandhi, seperti pohon yang memiliki banyak cabang (many), tapi berasal dari satu akar (the one).  Akar yang satu itulah yang menjadi asal dan orientasi agama-agama.  Karena itu, mari kita memproklamasikan kembali bahwa pluralisme sudah menjadi hukum Tuhan (sunnatullah) yang tidak mungkin berubah.  Dan, karena itu, mustahil pula kita melawan dan menghindari.  Sebagai muslim, kita tidak punya jalan lain kecuali bersikap positif dan optimistis dalam menerima pluralisme agama sebagai hukum Tuhan.”  (Sukidi, dari koran Jawa Pos, 11 Januari 2004).

Dari uraian yang panjang ini, mari kita bagi menjadi dua bagian, yaitu sebab dan akibat.  Pernyataan ‘sebab’ dalam rangkaian kalimat ini adalah pendapat dua orang manusia, yaitu Nietzsche dan Mahatma Gandhi.  Dua orang manusia!  Bernapas, berdaging, dan kini sudah sama-sama mati.  Apa akibat yang ditimbulkan dari ‘sebab’ tadi?  Karena Nietzsche dan Mahatma Gandhi berkata begini-begitu, maka (menurut Sukidi) kita harus memproklamasikan pluralisme sebagai hukum Tuhan.  Siapakah sebenarnya Nietzsche dan Mahatma Gandhi, hingga kata-katanya harus kita telan bulat-bulat?  Sesukses apakah hidupnya dibandingkan dengan Muhammad saw.?  Jika kata-kata Rasulullah saw. (yang merupakan manusia paling berpengaruh di dunia hingga detik ini) pun harus dikritisi (menurut kaum liberalis dan pluralis), maka mengapa dua manusia ini tidak perlu dikritisi?  Kritik saya satu saja : buktikan bahwa semua agama mengandung kebenaran yang sama!  Umat Islam tidak mungkin menerima konsep trinitas, dan umat Kristiani pastilah menolak kalau kaum perempuannya dipakaikan jilbab.  Samakah Islam dan Kristen?  Samakah Hindu dan Yahudi?  Samakah Buddha dan Zoroaster?  Adapun mengenai masalah pluralisme yang dianggap sebagai sunnatullaah yang tidak bisa dilawan, saya sudah menjelaskannya pada bagian sebelumnya.



“Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan kepada Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum simpul.  Sambil menunjukkan surga-Nya yang Mahaluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang, antara lain; Jesus, Muhammad, Sahabat Umar, Gandhi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir!”  (Sumanto Al-Qurtuby, dari buku Lubang Hitam Agama).

Sekali lagi, pernyataan ini diawali dengan kata “jika” dan “mungkin”.  Artinya, hanya sebuah kemungkinan yang mampu dipikirkan oleh benak seorang Sumanto.  Saya menganggapnya sebagai sebuah hipotesa yang tidak perlu ditanggapi serius karena memang sama sekali tidak ilmiah. 



* * * * * * *



Anda perlu gambaran lebih lanjut?  Saya akan mengutip beberapa tulisan Sumanto Al-Qurtuby dalam bukunya yang berjudul Lubang Hitam Agama.  Silakan Anda menilai sendiri!

·         “Bahkan sesungguhnya hakekat Al-Qur’an bukanlah ‘teks verbal’ yang terdiri atas 6666 ayat bikinan Utsman itu melainkan gumpalan-gumpalan gagasan.” (hal. 42)

·         “Al-Qur’an bagi saya hanyalah berisi semacam ‘spirit ketuhanan’ yang kemudian dirumuskan redaksinya oleh Nabi.” (hal. 42)

·         “Seandainya (sekali lagi seandainya) Pak Harto berkuasa ratusan tahun, saya yakin Pancasila ini bisa menyaingi Al-Qur’an dalam hal ‘keangkeran’ tentunya.” (hal. 64)

·         “Di sinilah maka tidak terlalu meleset jika dikatakan, Al-Qur’an, dalam batas tertentu, adalah “perangkap” yang dipasang bangsa Quraisy (a trap of Quraisy).” (hal. 65) 

Na’uudzubillaah!



* * * * * * *



Ya Allah, lindungilah aku, orang tuaku, keluargaku, keturunanku, guru-guruku, karib kerabatku, para teman dan sahabatku, dan seluruh Muslim dan Muslimah di seluruh dunia dari segala keinginan untuk menantang Engkau Yang Tidak Tertandingi.  Hilangkanlah kesombongan dari hati kami, meski secuil pun.  Cegahlah kami dari segala tindakan yang mengotori kesucian-Mu, karena Engkau Maha Suci dari apa-apa yang mereka sifatkan pada-Mu.  Gagalkanlah setiap langkah kami menuju kedurhakaan pada-Mu, dan jauhkanlah kami dari orang-orang yang tidak rela menyerah tanpa syarat kepada-Mu.  Kuatkanlah pijakan kami, dan jangan biarkan hati kami berpaling dari-Mu, walau sebentar.  Ya Allah, mereka telah memulai pertempuran ini.  Maka janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang melarikan diri.



Aku bersaksi, tiada ilah selain Allah.
Dan aku bersaksi, Muhammad adalah utusan Allah.